JAS MERAH (JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH)
yang dulu diajarkan oleh presiden pertama kita, Ir. Soekarno, kini
telah ditanggalkan. Ianya tergantung di balik pintu belakang dekat dapur
dan perkakas “kanca wingking”
lainnya. Pemilik jas hanya mengingatnya selama 10 menit di tanggal 10
november di setiap tahunnya, ironis! Padahal kerap kali guru PPKn
menggembar-gemborkan kepada siswa-siswinya tentang satu kalimat yang
dari tahun-ketahun telah digemborkan kepada siswa-siswinya tedahulu. “Anak-anak, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan,” petuah Sang Guru.
Bisa
jadi sistem pengajaran yang hanya mengedepankan ranah kognitif ini
menjadi salah satu penyebab lunturnya penghargaan terhadap pahlawan.
Siswa-siswi dijejali dengan tanggal-tanggal dan nama-nama tokoh tanpa
dijelaskan hakikat dari mempelajari sejarah itu sendiri. Tapi tunggu!
Jangan hanya menghakimi pak guru! Media dan kepedulian masyarakat
sebenarnya ikut andil besar dalam hal ini.
Berapa banyak media
yang menyoroti kepahlawanan seseorang? Sering kali pemberitaan tentang
hari pahlawan hanya setakat laporan tentang rutinitas upacara dan acara
mengheningkan cipta (dengan penuh kasak-kusuk) yang di lakukan oleh
beberapa instansi penting atau orang-orang penting saja, ianya menjadi
headline dengan foto-foto orang-orang penting yang sedang mengadakan
seremonial peringatan tahunan tersebut dan ya, tentu saja, tak
ketinggalan adanya foto-foto beliau-beliau saat acara tabur bunga di
makam pahlawan nasional.
Liputan tentang kepahlawanan seseorang
demi bertahan untuk hidup dan mengajak orang lain untuk hidup dengan
semangat, hanya dimasukkan dalam selingan tak lebih dari lima belas
menit, itupun pada waktu yang salah, saat semua orang tengah sibuk
bekerja atau tengah sibuk ngiler dalam mimpi tujuh cerita. Selebihnya
band-band pesolek dan plagiator versi boy band dan girl band gencar
sekali ditayangkan. Hal-hal "ngrasani" yang tak penting seperti halnya ngrasani para selebritis dan politikus mandul yang haus publikasi, justru ditempatkan pada jam-jam istirahat. Weh lha dalah...
Satu
lagi, dunia perfilman dan persenitronan yang cenderung bangga dengan
menambahkan demit-demit dan setan-setan kurang mutu, plus paha mulus dan
maaf, susu montok, dipaksakan untuk menggiring kesalahkaprahan persepsi
masyarakat terhadap tontonan wagu untuk menjadi tuntunan. Bah!
Pun
rasa kepedulian yang sangat kecil dari kelompok masyarakat, seolah
menjadi jawaban bahwa tidak ada keuntungan baik moril maupun materil
jika mengenal para pahlawan. Pahlawan hanya dijadikan alat untuk
mendapatkan nilai dan menjadi dongeng pengantar tidur. Sikap tidak
merasa memiliki ini adalah kesalahan bersama. Pengajaran, media,
kepedulian masyarakat juga dari kesalahan system (kepemerintahan yang
tidak menunjang) yang pada akhirnya membuat masyarakat kehilangan
kebanggaannya terhadap para pahlawan.
Kalau sudah begini, akan
semakin banyak anak bangsa ini yang kehilangan identitas
nasionalismenya. Semakin banyak anak bangsa kehilangan kebanggaannya
sebagai orang Indonesia. Kebanggaan akan kehebatan masa lalu hanyalan
imajinasi yang sulit digapai oleh ketiadaan sumber dan media yang
membuktikannya. Pendekatan ilmiah seolah mengaburkan sisi-sisi
pendekatan sederhana yang harus disampaikan dan dikembangkan sejak dini.
Seyogyanya
beberapa pembenahan segera di lakukan. Pembenahan dalam sistem
pengajaran dengan, memperkenalkan pahlawan bisa dilakukan dengan
berbagai cara secara terintegrasi akan menghasilkan persepsi positif
bagi siswa.
Media yang ikut andil dalam menyorot kepahlawanan
seseorang yang berbentuk apapun yang bisa menginspirasi dan menumbuhkan
rasa cinta pada setiap pembacanya jugapun sebuah tindakan tentang
bagaimana melakukan kreatifitas dan kebijakan lokal untuk memperkenalkan
para pahlawannya.
Era otonomi daerah harusnya sudah dapat
menjangkau sisi-sisi sejarahnya. Kebesaran suatu daerah jangan hanya
diukur oleh jumlah bangunan megah, jumlah pusat belanja, dan aneka
tempat wisata. Apresisasi terhadap para pahlawan adalah salah satu cara
menunjukkan kebesaran suatu daerah, dan ya benar, bangsa yang besar
adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.
Gelar
pahlawanpun tak hanya teruntuk pada mereka yang telah gugur di medan
laga demi memerdekakan Indonesia tetapi juga kepada sesiapapun yang
berhasil membuat perubahan (menuju ke arah yang lebih baik) dan
menginspirasi orang lain untuk berbuat suatu kebajikan/kebaikan demi
kemajuan bersama. Sudah waktunya setiap daerah memberikan penghargaan
kepada orang-orang yang berjasa di daerahnya masing-masing. Penghargaan
yang tak harus melulu di tunjukkan dengan uang dan upacara penyerahan
piala atau piagam atau penyematan tanda jasa yang tak urung jatuhnya
pada pengeluaran sekian dana demi kelangsungan upacara tersebut,
penghormatan yang dengan lebih menekankan pada pengakuan akan prestasi
dan karya dirinya bagi kemaslahatan umat manusia dalam skala sekecil
apapun.
Hal seperti ini (penghormatan kepada pahlawan) masih
langka adanya di Indonesia. Lebih banyak yang menginginkan kemerdekaan
pribadi dan mendapat gelar, maaf, “pahlawan sesuatu yang beralamat palsu”
yang hanya muncul ketika suatu musibah itu berakhir daripada menjadi
inspirator atau pemikir atau pelaksana pendongkrak perubahan positif
yang tentu saja dalam tanda petik “tanpa pamrih terselubung dan tanpa korupsi”.
Sudah saatnya untuk memakai kembali jas merah kita, di setiap hari setiap saat, setiap musim, setiap mimpi, dan setiap suasana.







0 komentar:
Posting Komentar